Pages

July 14, 2011

Skripsiku terDigilib!

Sudah beberapa teman menanyakan tema skripsi kuliah dulu. Trus saya jawab, tentang Labelling/Pelabelan. Temen nanya lagi, Pelabelan itu apa. Hmm, tik tok, susah jelasinnya, pasti yang dia bayangin sticker label buat ditempelin dibotol2 obat atau dibuku2 buat nandain harga sama barcode-nya. “Bukan! Bukan itu bro!”.
Tanpa menyepelekan si penanya, this is very very die hard to tell u about my thesis. Bukan karena kamunya, tapi karena yang jelasinnya :). Ini bukan karena skripsi sayanya yang sulit, tapi karena jawabannya yang sangat mudah dimengerti kalau ikut kelas 2 sks saja. Sementara dulu, lebih baik saya ga jawab meski dianggap ga bikin skripsi daripada yang nanya malah jadi bingung. Ironi memang. Anak Matematika katanya harus bisa menyederhanakan setiap soalan.
Setelah sekian lama mentok, akhirnya muncullah digilib itb >> perpus digital itb. Dari sini saya kepikiran, Kalau ada yang nanya lagi, saya tinggal bilang saja: Tema skripsi saya tentang “Pelabelan”, lebih jelasnya silakan baca (kalo perlu download): http://digilib.itb.ac.id/gdl.php?mod=browse&op=read&id=jbptitbpp-gdl-allanmuham-30410.
Alhamdulillah sederhana bukan?

Oya, Ini dia Abstraksinya:

ALGORITMA PELABELAN TOTAL SISI-AJAIB SUPER PADA GRAF BINTANG YANG DIPERUMUM
Undergraduate Theses from JBPTITBPP / 2008-05-21 14:48:59
Oleh : ALLAN MUHAMMAD TAUFIK (NIM 10102039), Central Library Institute Technology Bandung
Dibuat : 2008, dengan 6 file

Keyword : Graf bintang yang diperumum, Pelabelan total sisi-ajaib super, Konstanta ajaib
Misalkan G = (V,E) adalah suatu graf sederhana dan berhingga dengan himpunan titik V dan himpunan sisi E. Suatu pelabelan total sisi-ajaib super pada G adalah fungsi injektif f dari V∪ E ke himpunan bilangan asli {1,2,...,|V|+|E|} dengan f(V)={1,2,...,|V|} sedemikian sehingga terdapat bilangan bulat positif k, dinamakan konstanta ajaib, yang memenuhi f(x)+f(xy)+f(y) = k untuk setiap xy ∈ E. Graf yang mempunyai pelabelan total sisi-ajaib super disebut graf total sisi ajaibsuper. Pada tugas akhir ini dikaji tentang pelabelan total sisi-ajaib super pada graf bintang yang diperumum Sn pangkat m untuk n ≥ 3 dan m ≥ 0. Fokus pengkajian diutamakan pada pengkonstruksian pelabelan total sisi-ajaib super yang mungkin dengan menggunakan algoritma pelabelan yang diimplementasikan pada bahasa pemrograman tertentu.
Deskripsi Alternatif :

Let G = (V,E) be a simple and finite graph with a vertex-set V and an edge-set E. A super edge-magic total labeling of a graph G is an injective function from V∪E to {1,2,...,|V|+|E|} with f(V)={1,2,...,|V|} such that there exists a constant k, named a magic constant, satisfying f(x)+f(xy)+f(y) = k for each xy∈E. A graph having a super edge-magic total labeling is called a total super edge-magic graph. In this final project we consider a super edge-magic total labeling of an expansion of the star Smn for n ≥ 3 and m≥ 0. The main focus is constructing a super edgemagic total labeling using a labeling algorithm, which will be implemented in a language program.
Copyrights : Copyright Â(c) 2001 by ITB Central Library. Verbatim copying and distribution of this entire article is permitted by author in any medium, provided this notice is preserved.

July 13, 2011

Apologi Kepanitiaan dan Cerita (alm.) Mang Ibing

Dalam sebuah konferensi satwa, tersebutlah beberapa satwa pembicara menyampaikan kebanggaannya tentang supremasi reproduksi keturunan masing-masing.

Kucing : "Bangga sekali kami sebagai bangsa kucing dikaruniai kemampuan, sekali melahirkan bisa memiliki 3-4 anak sekaligus"

Kelinci: "Kami boleh lebih berbangga karena setiap sekali kelinci betina dari kami melahirkan, bisa langsung memiliki 6-7 anak"
Kutu : "Kami jelas lebih berbangga lagi, karena setiap dari kami melahirkan, diberi kemampuan melahirkan puluhan hingga ratusan anak kutu! Luar biasa bukan?"
Masing2 saling membanggakan diri, dan memperlihatkan senyum sinis kepada Bangsa lainnya. Melihat itu perwakilan Singa yang memperoleh giliran bicara dengan segala kerendahan hati kemudian berpidato:
“Wahai Bangsa kucing, kelinci, kutu dan seluruh hadirin yang terhormat, bangsa kami memang tidak seperti kalian. Setiap kali dari kami melahirkan paling-paling hanya bisa menghasilkan satu ekor anak saja”
“Tapi tolong dicatat ya… satu juga…. SINGA!”
Kucing, kelinci, kutu, dan seluruh hadirin pun terdiam.
------------
Saya betul2 suka dengan cerita ini. Saya ingat betul, kisah yang saya tuliskan serius ini sejatinya dibawakan dengan penuh bumbu canda oleh alm. Mang Ibing dalam sebuah rekaman siaran radio Mara.
Inspirasi cerita Mang Ibing ini kembali saya tangkap secara tidak langsung saat beberapa hari lalu saya bersama teman2 di sebuah Yayasan menggagas acara Pelatihan Wirausaha untuk warga pemuda sekitar Kecamatan Astana Anyar Bandung, daerah tempat kami tinggal. Acaranya Gratis, tapi memakan biaya yang cukup tinggi di mata kami. Pematerinya Oke. SDM Panitianya sudah yang terbaik! Ada simulasi dan aneka doorprize pula. Penyelenggaraannya pun sudah ‘lumayan’ habis2an, ditambah adanya pengunduran jadwal yang diharapkan bisa memaksimalkan persiapan kami selaku panitia.
Sayangnya, dari target 60 peserta, yang hadir di acara ini hanya 10 orang saja!.. Itupun sebagian adalah teman-teman kami sendiri. Sungguh Allah Maha Menguasai setiap kejadian.
Beberapa jam lalu saya menyimak sebuah status facebook seorang sobat yang disadur dari quotesnya Prof Jamad Y Abuhlail: “If something doesn’t work, then there is something wrong”. Dan saya setuju sekali dengan ini! Pasti ada alasan. Kalau tidak strategi marketing acaranya yang jelek, pantianya kurang gesit, pola penyebaran undangannya yang kurang oke, atau kekuatan doanya yang kurang. Who knows? Ini perlu dievaluasi.
Kemudian pasca penyelenggaraan acara yang ‘nyaris gagal dari sudut jumlah pesertanya’ itu saya menangkap hal lain pada teman2 panitia (juga saya). Yakni, aura kurang semangat, dan tingkat konfidensi yang semakin melemah. Maklum, ini kesekian kalinya kami menggagas kegiatan, tapi kurang respon dan antusiasme dari peserta. Too Bad!
Ulama sekaliber DR Aidh AlQarni bisa menuliskan kalimat pemulih semangat untuk orang lain pada bukunya Laa Tahzan setebal 90 halaman. Tapi saya merasa semangat kembali saat mengingat cerita bodor singkat Mang Ibing yang saya tambahi apologi.
“Bolehlah pesertanya Cuma 10 pemuda saja. Tapi yang 10 itu SINGA yang sedang sungguh2 meningkatkan potensi wirausahanya! Bukan RATUSAN atau RIBUAN KUTU yang sukanya cihuy2, menganggur dan ga jelas memandang usaha untuk hidupnya!”…






Keep your spirit up my friend!




February 08, 2011

Tanggal Merah Untuk Bang Toyib

Teman-teman sekalian sempat membolak-balik kalender 2011? Coba deh sekali-kali tengok...
  • 5 dari 13 Tanggal Merah jatuh di hari sabtu/minggu
  • 7 bulan di 2011 tidak ada Tanggal Merah (Jan, Mar, Jul, Sept, Okt, Nov, Des)
  • Setelah lebaran Idul Fitri 2011, kita tidak akan ketemu Tanggal Merah lagi hingga 2012
  • Tahun baru 2012 nanti, jatuh pada hari minggu (Bonus).
Karenanya bagi para bang Toyyib yang jarang pulang, Yuk kita maksimalkan berkumpul dengan istri, anak, orang tua, dan kerabat tercinta di hari libur yang ada...
Jatah Tanggal merah kita semakin menipis!

January 10, 2011

Menagih Hormat Blackberry

Saya belum menjadi pengagum dan pengguna Blackberry, kebetulan saat ini masih cukup setia dengan Strawberry. Namun demikian mengingat 2 juta khalayak di negeri ini telah mengantongi Blackberry, saya merasa perlu me-repost Ide pak tif di bawah ini... demi kebaikan bersama... Check it Out!


"JAKARTA, KOMPAS.com — Ancaman yang dilontarkan oleh Menteri Komunikasi dan Informatika Tifatul Sembiring terhadap Research in Motion selaku penyedia layanan BlackBerry bukan hanya berlandaskan pada satu alasan. Melalui situs microblogging Twitter, Minggu (9/1/2011), Tifatul berupaya mengungkapkan tuntutan-tuntutan yang harus dipenuhi oleh RIM jika ingin tetap beroperasi di Indonesia.
Tuntutan lain telah lebih dulu berkumandang di awal masuknya RIM ke Indonesia beberapa waktu lalu. Misalnya, yang tentu paling diingat oleh pengguna BlackBerry di Indonesia adalah agar RIM membuka service center dan kantor perwakilan di Tanah Air. Tuntutan agar RIM melakukan pemblokiran terhadap material porno hanya merupakan salah satu dari—setidaknya—tujuh hal yang diminta oleh Tifatul kepada perusahaan asal Kanada itu.
Tifatul menyebutkan, hal pertama yang harus dipatuhi oleh RIM adalah perusahaan itu harus menghormati dan mematuhi peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia. Ada tiga undang-undang yang terkait, yakni Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1989 tentang Telekomunikasi, UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, dan UU Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi.
Kedua, RIM diminta membuka perwakilannya di Indonesia sebab pelanggan RIM di Tanah Air sudah mencapai lebih dari 2 juta. Ketiga, RIM diminta membuka service center di Indonesia untuk melayani dan memudahkan pelanggan.
Keempat, RIM diminta merekrut dan menyerap tenaga kerja Indonesia secara layak dan proporsional. Kelima, RIM diminta sebanyak mungkin menggunakan konten lokal Indonesia, khususnya mengenai software.
Nah, tuntutan pemblokiran situs porno masuk dalam permintaan yang keenam, yaitu RIM diminta memasang software blocking terhadap situs porno, sebagaimana yang telah dilakukan oleh operator-operator lain di Indonesia. Ketujuh, RIM diminta membangun server/repeater di Indonesia agar aparat penegak hukum dapat melakukan penyelidikan terhadap pelaku kejahatan, termasuk koruptor.
Untuk semua tuntutan itu, Tifatul menilai, RIM mengulur-ulur waktu. "Sejauh ini terkesan #RIM meng-ulur-ulur waktu untuk menjalankan komitmen mereka. Apakah kita sebagai bangsa mau diperlakukan spt itu?" demikian pernyataan Tifatul dalam akun Twitter-nya, @tifsembiring.
"Kalau ada nasionalisme di dada kita & ingin jd bangsa berwibawa, pasti sebagian kita akan setuju poin2 yg saya sampaikan tentang #RIM," tulisnya pula."

January 04, 2011

(Sebenarnya) Indonesia Kalah Dari Malaysia Karena Bambang Pamungkas

"Indonesia kalah di final Piala AFF 2010 karena apa? karena kurang kualitas di sektor pertahanan? kalah gol agregat? atau karena sinar laser? Salah Besar! Jelas-jelas Indonesia kalah karena seorang Bambang Pamungkas. Andai 1 saja (dari 2) penalti Bambang di Babak Penyisihan versus Thailand tidak menjadi gol, otomatis Malaysia tidak akan maju ke final dan mengalahkan Indonesia disana. Indonesia-lah yang jadi juaranya!" seru picik saya.

Dan saya ataupun anda yang suka berandai-andai selalu berkata demikian bukan? Kalau saja waktu itu lawan Thailand kita ga perlu menang atau penalti Firman Utina ga masuk saja, atau (lagi-lagi) kalau leg 1 Final AFF tidak ada intimidasi laser, mungkin ceritanya lain (meski mungkin juga ceritanya tetap sama). Cerita-cerita ini selalu mengusik benak kita, meski juga lumayan bisa meninabobokan perasaan sakit hati dikalahkan Malaysia (lagi).

Kalau saja.. Hus!
Marilah 'saya' sportif,.. Selamat untuk Timnas Malaysia yang telah mendahului Indonesia di sukses AFF Cup. Tapi kalau saja waktu itu... Hus!

December 16, 2010

Kemanjaan

Posted: 2010-12-16 09:49:53 UTC
Oleh: Anis Matta
Jika kita hanya membaca biografi pahlawan, atau mendengar cerita kepahlawanan dari seseorang yang belum pernah kita lihat, barangkali imajinasi yang tersusun dalam benak kita tentang pahlawan itu akan berbeda dengan kenyataannya. Itu berlaku untuk lukisan fisiknya, juga untuk lukisan emosionalnya.


Abu hasan Ali Al-Halani Al-Nadwi, yang tinggal di anak benua India, telah membaca tulisan-tulisan Sayyid Quthub, yang tinggal di Mesir. Tulisan-tulisannya memuat gagasan-gagasan yang kuat, solid, atraktif, berani dan terasa sangat keras. Barangkali bukan merupakan suatu kesalahan apabila dengan tanpa alasan kita membuat korelasi antara tulisan-tulisan itu dengan postur tubuh Sayyid Quthub. Penulisnya, seperti juga tulisannya, pastilah seorang laki-laki bertubuh kekar, tinggi dan besar. Itulah kesan yang terbentuk dalam benak Al Nadwi. Tapi ketika ia berkunjung ke Mesir, ternyata ia menemukan seorang laki-laki dengan perawakan yang kurus, ceking dan jelas tidak kekar.

Begitu juga dengan potret emosi seorang pahlawan. Kadang-kadang ketegaran dan keberanian para pahlawan membuat kita berpikir bahwa mereka sama sekali tidak mempunyai sisi-sisi lain dalam dirinya, yang lebih mirip dengan sisi-sisi kepribadian orang-orang biasa. Misalnya, kebutuhan akan kemanjaan.

Umar bin khattab mengajar sesuatu yang lain ketika beliau mengatakan: “jadilah engkau seperti seorang bocah didepan istrimu”. Laki-laki dengan postur tubuh yang tinggi, besar, putih dan botak itu yang dikenal keras, tegas, berani dan tegar, ternyata senang bersikap manja didepan istrinya. Mungkin bukan cuma Umar. Sebab Rasulullah SAW, ternyata juga melakukan hal yang sama. Adalah Khadijah tempat ia kembali saat kecemasan dan ketakutan melandanya setelah menerima wahyu pertama. Maka kebesaran jiwa Khadijah yang senantiasa beliau kenang dan yang memberikan tempat paling istimewa bagi perempuan itu dalam hatinya, bahkan setelah beliau menikahi seorang Aisyah. Tapi beliau juga sering berbaring dalam pangkuan Aisyah untuk disisiri rambutnya, bahkan ketika beliau sedang i’tikaf dibulan Ramadhan.

Itu mengajarkan kita sebuah kaidah, bahwa para pahlawan mukmin sejati telah menggunakan segenap energi jiwanya untuk dapat mengukir legenda kepahlawanannya. Tapi untuk itu mereka membutuhkan suplai energi kembali. Dan untuk sebagiannya, itu berasal dari kelembutan dan kebesaran jiwa sang istri.

Kemanjaan itu, dengan begitu, barangkali memang merupakan cara para pahlawan tersebut memenuhi kebutuhan jiwa mereka akan ketegaran, keberanian, ketegasan dan kerja-kerja emosi lainnya.

Kepahlawanan membutuhkan energi jiwa yang dasyat, maka para pahlwan harus mengetahui dari mana mereka mendapatkan sumber energi itu. Petuah ini agaknya tidak pernah salah : “Dibalik setiap laki-laki agung, selalu berdiri wanita agung” dan mengertilah kita, mengapa sastrawan besar besar Mesir ini, Musthafa Shadiq Al Rafii, mengatakan “kekuatan seorang wanita sesungguhnya tersimpan dibalik kelemahannya”.**

December 15, 2010

Alat Ukur Tangki

Tadi pagi saya melakukan kegiatan monitoring rutin ke sebuah anak perusahaan tempat saya bekerja. Bersama beberapa teman kami meninjau proyek fasilitas produksi berupa penyewaan 2 unit tangki minyak masing-masing dengan kapasitas 5000 Barel yang disewakan kepada Pertamina EP di Pondok Tengah Bekasi. Sebetulnya monitoring yang dilakukan lebih terkait progres proyek, perolehan revenue bulanan, dll, tapi seketika itu juga saat mendapatkan kata "TANGKI" dan "PERTAMINA" di benak saya, tiba-tiba teringat pesanan pekerjaan teman setahun yang lalu.

----------
Sahabat lama menelepon, dia meminta bantuan terkait pekerjaannya sebagai seorang pegawai LIPI di luar kota. Ada tools yang harus dia buat katanya yakni Software pengukur volume minyak dalam sebuah tangki. Requestnya berasal dari industri menengah pemilik (truk) tangki pengangkut minyak. Tangkimeter ini harus bisa menginformasikan volume minyak, saat tangki tersebut penuh, setengah penuh, dan untuk berbagai tingkat ke-penuh-an lainnya, alias untuk berbagai tingkat ketinggian minyak bila diukur dari dasar tangki.
Harapan si pemilik tangki sebenarnya sederhana saja. Dia bisa tahu berapa volume minyak tersisa dalam tangki yang dimiliki dengan cara memasukan sebuah tongkat mistar ke dalam tangki tersebut. Jika ketinggian minyak yang tertera pada tongkat mistar tertulis 1 atau 2 meter misalnya, maka alat ukur tangki tersebut dapat membaca berapa liter kah volume minyak tersisa. Itulah ide dasarnya. Dengan catatan tangki yang akan diukur ini ada pada posisi landscape, layaknya truk-truk pertamina pengangkut bensin atau solar. Dan secara khusus untuk 3 bentuk tangki dengan berbagai ukuran. Tangki pertama berbentuk tabung dengan sisi-sisinya berupa alas elips, tangki kedua berbentuk setengah kapsul, dan tangki ketiga berbentuk kapsul sempurna (layaknya pil obat).

"Mungkin kamu bisa bantu?" katanya. Boleh jadi dianggapnya seorang lulusan Matematika harus bisa membuatkan sofware yang dimaksud.


Beberapa lama kemudian saya mulai menyentuh urusan pertangkian ini. Mencari inspirasi sana sini kepada master2 Matematika di kampus dulu, membongkar Google, sampai mengingat-ingat kembali materi kuliah: diferensial-integral. Sampailah saya pada kesimpulan kalau tools pengukur volume tangki dengan parameter ketinggian ini sebenarnya sederhana, bahkan untuk tangki tabung horizontal sudah banyak terunggah free aplikasi-nya di internet. 


Akhirnya, jadi juga pesananan yang diminta. Mengingat waktu, saya buat aplikasi sederhananya pada Excel dengan penampakan seperti pada gambar di bawah:Setelah dilakukan uji coba empiris dan dirasa ampuh untuk mengukur volume fluida (minyak, air, solar, atau apapun itu) di dalam 3 bentuk tangki, selesailah alat ukur volume tangki yang kemudian saya panggil TANKI-METER ini.

Teman saya cukup puas, karena mungkin produknya sudah sesuai dengan ekspektasi. Yang membuat saya kaget, ternyata urusan tanki-meter ini bukan urusan pertemanan atau 'terima kasih' saja, melainkan urusan barter pekerjaan dan uang. Mungkin karena yang mesan industri komersil.

Alhamdulillah... Besar atau kecil yang saya terima tidak menjadi ukuran.. Tapi saya catat betul2 kalau fee tangki ini jadi rejeki penghasilan sampingan pertama saya untuk dunia industri :D... apaan sih X_X !

--------------------------------------------------------------------------------------------------------


Setelah saya sounding tangkimeter di blog ini, ternyata cukup banyak pembaca yang menanyakan untuk keperluan yang sama. Karenanya bagi teman-teman lainnya yang membutuhkan tangkimeter, dapat mengunduhnya disini: http://search.4shared.com/q/CCAD/1/Tanki-meter atau menghubungi saya di allanpowerful@yahoo.com. 

[Notes: menerima dana pengembangan software, dapat dikirim ke BCA Cab.Dago No Rek: 777 071 8664 a.n. Allan M Taufik]



 

December 02, 2010

Malaysia Kena Ganyang!

Mengalahkan Malaysia 5-1 semalam memang benar2 membuat hati ini girang minta ampun, meski menangnya cuma lewat sepakbola bukan penetrasi sosio-ekonomi. Kita tahu "saudara serumpun" Malaysia yang sejarahnya banyak kita "warnai", akhir2 ini sering nyeleneh dengan segala bentuk pengAKUannya. Coba tengok pengakuan mereka atas batik, reog ponorogo, gamelan, tari pendet sampai lagu soleram.

Kali ini saya ingin refreshing sejenak membaca kedigdayaan kesebelasan kita semalam dari media massa. Biar lebih puas, saya sengaja cari sumbernya dari salah satu media massa Malaysia ternama yakni
Harian MyMetro. Silakan Menikmati, judulnya: KENA GANYANG!!

REBUT...Mohamad Muslim (kiri)  berebut bola dengan pemain Indonesia, Christian Gonzales  pada perlawanan malam tadi.
REBUT...Mohamad Muslim (kiri) berebut bola dengan pemain Indonesia, Christian Gonzales pada perlawanan malam tadi.

ANDAI Stadium Gelora Bung Karno itu sendiri mampu berbicara, pastinya venue kebanggaan rakyat Indonesia itu turut menangisi nasib anak buah ketua jurulatih, K Rajagobal yang tewas 5-1 ke pada tuan rumah ketika saingan pembukaan Kum pulan A, Piala Suzuki AFF 2010, malam tadi.

Manakan tidak, sudah lah sebahagian besar daripada kira-kira 70,000 penonton enggan berdiri untuk menghormati lagu Negaraku ketika dimain kan, lebih memalukan lagi apabila jeritan ‘Maling’ dan ‘Ganyang Malaysia’ dilaungkan seiring dengan nada lagu kebangsaan Malaysia itu.

Apa yang ditakuti Rajagobal selepas kehilangan lapan pemain tonggak akibat kecederaan berlaku juga akhirnya walaupun pada satu ketika, anak buahnya mempamer aksi dirancangkan.

“Memang saya kecewa dengan kekalahan ini walaupun hakikatnya ia tidak menggambarkan keseluruhan aksi pemain kita.

“Kita dibolosi lima gol dan anda semua boleh lihat kelima-lima gol itu adalah hasil kesilapan individu.


“Saya rasa punca sikap pemain kita terlalu mahu mempamer aksi terbaik pada perlawanan tadi. Ternyata sikap itu memakan diri sendiri.

“Ketika ketinggalan 2-1 dan 3-1, kita masih yakin dapat bangkit tapi selepas gol keempat, pemain mula goyah,” kata Rajagobal.

Beliau turut menyalahkan benteng pertahanan terlalu kerap melakukan kesilapan dan memudahkan Indonesia menjaringkan gol demi gol.

“Kita hilang disiplin di benteng pertahanan. Pada setiap kali Indonesia melakukan serangan balas, mereka kelihatan pasti menjaringkan gol dan pada jangkaan saya, mereka menghukum kita dengan lebih banyak gol, bukan lima saja. Pertahanan kita terlalu lemah dan membiarkan Indonesia mengatur pelbagai corak serangan,” katanya.

Beliau berharap aksi sebegitu tidak berulang lagi berdepan Thailand, Sabtu ini.

Diasak sejak awal permainan, Malaysia tetap mampu bertahan dengan baik dan hasil satu serangan balas pantas, Nor Shahrul Idlan Talaha berjaya menenggelamkan seketika ‘amukan’ pemain tuan rumah menerusi jaringan pada minit ke-18 selepas menerima hantaran lintang Safee Sali.

Serentak jaringan itu, Stadium Gelora Bung Karno senyap seketika dan masing-masing kelihatan tertekan tapi kembali ceria apabila bola yang membias selepas terkena badan tonggak pertahanan, Mohd Asraruddin Putra Omar, menggegar jaring sendiri pada minit ke-22.

Jaringan penyamaan itu ternyata berjaya melonjakkan kembali semangat juang Indonesia dan anak buah Alfred Riedl itu kembali melakukan asakan demi asakan ke kubu Malaysia.

Hantaran lintang Oktavianus Maniani pantas disambar ayam tambatan Indonesia dari Uruguay, Cristian Gonzalez untuk memberikan pendahuluan 2-1 pada minit ke-35 dan kedudukan itu kekal hingga pengadil Vietnam, Vo Min Tri meniupkan wisel menandakan tamat aksi babak pertama.

Bermula babak kedua, Indonesia menggunakan sepenuhnya kesempatan beraksi di tempat sendiri melakukan asakan bertali arus hingga ada kalanya, anak didik Rajagobal kelihatan terkial-kial mempertahankan kubu.

Pertahanan Malaysia sekali lagi menerima padah kerana gagal mengeluarkan bola dan kesempatan itu mudah diambil Muhammad Ridwan menghasilkan gol ketiga Indonesia pada minit ke-59.

Mungkin kepenatan akibat terlalu kerap diasak sedangkan impian Malaysia menambah jaringan kelihatan agak mustahil, Mohamad Muslim Ahmad melakukan kesilapan dan gagal mengawal dengan baik bola sepakan percuma diambil Muhammad Nasuha hingga membolehkan Arif Suyono melakar gol keempat Indonesia pada minit ke-80.

Irfan Haarys Bachdim melengkapkan kemenangan besar 5 -1 Indonesia selepas menerima hantaran lintang Oktavianus pada minit ke-90.

..................................................

December 01, 2010

Kecewa adalah Tanda Cinta

“Orang-orang partai politik itu mudah kecewa. Begitu keinginannya tidak terpenuhi, lalu keluar dari partainya dan membuat partai baru”, kata seorang teman kuliah di Lemhannas berapi-api. Aku hanya mengatakan, “Tergantung partainya, dan tergantung orangnya”. Dia terus saja mengomel tentang jeleknya orang-orang parpol, dan jawabanku pun tetap sama.

Ini soal perasaan kecewa. Sesungguhnyalah kecewa muncul karena adanya harapan yang tidak kesampaian. Ada harapan yang ditanam, dan ternyata tidak didapatkan dalam kenyataan. Inilah yang menyebabkan muncul kekecewaan. Jarak yang terbentang antara harapan dengan kenyataan itulah ukuran besarnya kekecewaan. Semakin lebar jarak yang terbentang, semakin besar pula kekecewaan. Oleh karena itu, kecewa itu ada di mana-mana, di lingkungan apa saja, di dunia mana saja, selalu ada kecewa.

Mari kita mulai dari yang paling kecil dan sederhana. Kadang kita kecewa dengan diri kita sendiri. “Mengapa saya tidak begini, mengapa saya tidak begitu”, adalah contoh kekecewaan yang kita alamatkan kepada keputusan kita sendiri yang telah terjadi. Kita menyesal di kemudian hari.

Dalam kehidupan rumah tangga yang isinya hanya dua orang saja, yaitu suami dan isteri, bisa muncul kekecewaan. Suami kecewa kepada isteri, dan isteri kecewa kepada suami. Hidup berdua saja bisa menimbulkan kecewa, apalagi kehidupan organisasi atau negara. Jika di dalam rumah tangga mulai ada anak-anak, kekecewaan bisa bertambah luas. Anak kecewa dengan sikap orang tuanya, dan orang tua kecewa dengan kelakuan anaknya. Satu anak dengan anak lainnya juga bisa saling kecewa mengecewakan.

Satu keluarga bisa kecewa atas perbuatan keluarga lainnya dalam sebuah lingkungan tempat tinggal. Satu desa bisa kecewa dengan desa lainnya dalam satu kecamatan. Indonesia sangat kecewa dengan sikap Amerika yang arogan, kecewa dengan sikap Israel yang merampas hak warga sipil Palestina secara semena-mena. Sebagaimana Amerika kecewa dengan Indonesia karena kurang akomodatif dengan kebijakan Amerika. Israel kecewa dengan Indonesia karena tidak mau membuka hubungan diplomatik dengan Israel.

Jamaah sebuah masjid bisa kecewa dengan sikap imam masjid, sebagaimana imam masjid bisa kecewa dengan kondisi jamaah. Masyarakat gereja bisa kecewa terhadap pendeta sebagaimana pendeta bisa kecewa terhadap keadaan jemaatnya. Suporter sepak bola sering kecewa terhadap tim yang dibelanya, sebagaimana pemain sepak bola sering kecewa kepada sikap para suporter.

TNI bisa kecewa terhadap kebijakan dan sikap Polri sebagaimana Polri bisa kecewa terhadap TNI. Angkatan Darat bisa kecewa terhadap Angkatan Laut dan Udara, sebagaimana Angkatan Laut bisa kecewa terhadap Angkatan Darat dan Udara, atau Angkatan Udara kecewa terhadap Angkatan Darat dan Angkatan Laut. Di Angkatan Darat, seorang komandan bisa kecewa terhadap anak buahnya, sebagaimana anak buah bisa kecewa kepada komandannya.
 
Seorang kader bisa kecewa kepada pemimpin, sebagaimana pemimpin bisa kecewa atas sikap para kader. Seorang teman menyampaikan pesan lewat SMS kepada saya, yang isinya mengatakan sangat kecewa dengan partai yang digelutinya dan akan keluar serta bergabung dengan sebuah organisasi/partai lainnya, sebut saja partai X. Saya menjawab dengan dua kali jawaban. Pertama, bahwa hak masuk dan keluar dari partai adalah di tangan anda sendiri, tak ada yang boleh memaksa. Kedua, kalau anda keluar dari partai karena kecewa dan akan bergabung dengan partai lainnya, maka ketahuilah bahwa partai itu juga pernah mengecewakan anggotanya. Ada banyak orang kecewa dari partai X dan berpindah ke partai yang lainnya. Di setiap organisasi, partai, ataupun gerakan apapun, selalu ada orang yang kecewa dan meninggalkannya. Selalu.

Sepanjang sejarah kemanusiaan paska masa kenabian, tidak ada satupun organisasi yang tidak pernah mengecewakan anggotanya. Semua organisasi, semua gerakan, semua harakah pernah mengecewakan anggotanya. Selalu ada anggota organisasi atau anggota gerakan yang kecewa dan terluka. Selalu.

Ini bukan soal benar atau salahnya kondisi tersebut. Ini hanya potret sesungguhnya, begitulah kenyataan yang ada. Cobalah sebut satu saja contoh organisasi, ormas, instansi, atau apapun. Pasti ada riwayat pernah ada anggota atau pengurus yang kecewa. Kalau tidak ada yang pernah dikecewakan, berarti organisasi tersebut belum pernah beraktiviktas nyata.

Bahkan organisasi yang dibuat dari kumpulan orang kecewa, pasti pernah mengecewakan anggotanya pula. Misalnya sekelompok orang kecewa dengan kebijakan organisasi A, lalu mereka menyingkir dan berkumpul. Mereka bersepakat, “Kita berkumpul di sini karena dikecewakan para pemimpin kita. Sekarang kita himpun potensi kita, dan kita berjanji untuk tidak saling mengcewakan lagi. Jangan ada yang dikecewakan disini”. Tatkala mereka sudah eksis sebagai organisasi, maka pasti ada yang kecewa di antara mereka.

Mereka tidak tahu, bahwa kecewa itu tanda cinta. Kalau tidak cinta, tidak mungkin kecewa. Karena cinta, maka muncullah berbagai harapan kita. Setelah harapan tertanam, ternyata apa yang kita lihat dan kita alami tidak seperti yang diharapkan. Maka muncullah kecewa.

Mengapa beberapa orang parpol yang kecewa lalu membuat parpol baru lagi ? Karena boleh menurut Undang-undang. Coba kalau Undang-undang membolehkan membuat TNI baru, atau Polri baru, atau Mahkamah Agung baru, atau DPR baru, pasti sudah banyak orang membuat dari dulu. Banyak orang kecewa dengan TNI, banyak orang kecewa dengan Polri, banyak orang kecewa dengan Mahkamah Agung, banyak orang kecewa dengan DPR, banyak orang kecewa dengan Presiden dan Wakil Presiden, banyak orang kecewa dengan Menteri, banyak orang kecewa dengan Gubernur, Bupati, Walikota, Camat, Kepala Desa, Ketua RW atau Ketua RT.

Jadi, kecewa itu ada dimana-mana, karena cinta ada dimana-mana, karena harapan ada dimana-mana. Namun muncul pertanyaan, pantaskah kita tidak berani memiliki harapan karena takut dikecewakan ? Jawabannya jelas, tidak pantas !

Karena harapan itulah yang membuat kita bersemangat, karena harapan itulah yang membuat kita bekerja, karena harapan itulah yang membuat kita selalu berusaha melakukan dan memberikan yang terbaik, bahkan karena harapan itu pula yang membuat kita ada. Jangan takut memiliki harapan masuk surga. Jangan takut memiliki harapan Indonesia yang makmur dan sejahtera. Jangan takut memiliki harapan Indonesia menjadi negara paling adil dan paling maju di seluruh dunia.

So, teruslah memiliki dan memupuk harapan. Teruslah bekerja, teruslah berkarya, hingga akhir usia. Jangan takut kecewa.

Pancoran Barat 30 Nopember 2010
Disadur dengan beberapa perubahan dari tulisan: Cahyadi Takariawan*